
BERPIKIR— Five percent of the people think; Ten percent of the people think they think; and the other Eighty-five percent would rather die than. (Thomas Alva Edison) —
Kalau Edison benar maka kita umat manusia di dunia ini yang benar berpikir dan tahu kalau dia berpikir menjadi kaum minoritas yang elitis karena hanya 5%. Populasi dunia saat ini sekitar 6,5 milyar jiwa, artinya hanya sekitar 325 juta (5%) penduduk yang berpikir dan sadar kalau berpikir, yang lainnya kemana? Buang ke laut saja…, kata syair sebuah lagu. — Berpikir sebenarnya menjadi bagian inheren dari manusia sejak dia lahir ke dunia. Lalu apa maksud Edison? — Sebelum kita gali lebih jauh, berikut beberapa fakta tentang otak sebagai alat untuk berpikir. Pada saat dilahirkan, otak bayi memiliki 1 trilyun sel neuron, supaya lebih jelas saya tulis lengkap nolnya: 1.000.000.000.000 sel. — Jumlah yang fantastis ini belum menjadi jaminan kecerdasan, para ahli menemukan bahwa yang sangat menentukan kecerdasan adalah kanal penghubung antar sel atau spina dendrit. Bila percabangannya makin kompleks, maka otak dalam mengolah asupan data dan rangsang makin cepat bekerja. Mirip-mirip kerja prosesor berinti banyak yang bekerja secara simultan dibandingkan dengan cara kerja prosesor berinti tunggal. — Pertumbuhan percabangan yang kompleks selain dipengaruhi faktor genetis juga dipengaruhi lingkungan. Saat usia dini bila otak sering dirangsang dengan berbagai stimulus seperti: musik, warna, kegiatan motorik dan kasih sayang akan secara signifikan meningkatkan kecerdasan. — Kembali ke pernyataan Edison, yang dimaksudkan olehnya tampaknya adalah kemampuan berpikir yang tertata dan terorganisir dengan baik. Menyusun pikiran dan pendapat berdasarkan timbunan data historis, secara kreatif menghubungkan benang merahnya sehingga tercapai kesimpulan yang akurat, valid dan teruji (reliable). Selanjutnya sesuai dengan arah keinginan kesimpulan tadi dijadikan acuan untuk menetapkan kerangka berpikir dalam menyusun rencana yang akan dicapai, bila berpikir disini dimaksudkan untuk menyusun rencana masa depan. — Pendekatan metode ilmiah, logika, deduktif-induktif, dialektika,dan silogisme adalah beberapa cara untuk ‘berpikir’ secara rasional. Di sisi lain ada intuisi yang sering disebut metode pseudo-ilmiah. Meski semakin banyak ilmuwan mengatakan intuisi merupakan pijakan dasar dalam perkembangan ilmu. — Apapun yang kita pikirkan dan apapun metodenya, tentunya semua harus berdasarkan common sense atau akal sehat. Ternyata kita kembali berputar lagi pada metode yang dikatakan tidak atau dianggap kurang rasional: common sense, sebagai juri terhadap hasil kesimpulan yang berdasarkan metodologi ilmiah dan kedisplinan berpikir. — Jika ‘juri’ common sense dapat menerima hasil olah pikir tadi, maka terus dianalisis lanjut sehingga sampai pada pertanyaan dan kesimpulan yang ‘dianggap’ paling ilmiah. Jangan kaget banyak contoh mengenai penerapan ‘metode ilmiah’ common sense ini di berbagai bidang keilmuan. Paling sering dijumpai pada bidang ilmu yang membahas mengenai prediksi masa depan atau futurologi. (*) — Tulisan berikutnya akan kita lihat contoh-contoh common sense yang menjadi acuan memprediksi masa depan. Artikel terkait: |


Kebanyakan dr kita tdk menggunakan otak dan akal sehat secara benar…,
[Balas]
@ Novi:
he he he…kata Uncle Edison kan hanya 5% yang akalnya sehat..
[Balas]
sob sudah saya tautkan blogmu di rahasiaotak.com
[Balas]
@ red:
Ok juga …..link rahasiaotak.com sudah saya pasang di blogroll. Saya akan sering berkunjung ke blogmu. Tks.
[Balas]
salam kenal balik… oh futurologi yaa…
anyin´s last blog ..STUPID POSTING #4
[Balas]
Anggara Reply:
Maret 5th, 2010 at 20:38
@anyin,
Trims atas kunjungannya……
[Balas]
aku berfikir maka aku ada….
[Balas]
Anggara Reply:
Juni 8th, 2010 at 09:31
@kolomkiri, cogito ergo sum
[Balas]