
BERPIKIR VERTIKAL VS. BERPIKIR LATERALSaat ada informasi baru atau masalah yang muncul kita terbiasa memprosesnya dengan melakukan analisa. Artinya kita pecah informasi tadi kemudian dilakukan pengakategorian, selanjutnya dalam tiap tahap analisa selalu dicari yang benar dengan menyisihkan yang dianggap salah atau tidak benar. Atau mungkin sebaliknya mengumpulkan berbagai potongan informasi untuk kemudian diuji masing-masing informasi dengan alat ukur ‘penguji kebenaran,’ setelah itu ditarik kesimpulan yang harus benar sepanjang masa. - Ini ciri khas dari berpikir secara vertikal, yaitu sepanjang masa selalu dicari yang benar dan membuang sisanya yang dianggap salah. - Alih-alih menabalkan kebenaran yang harus hadir sepanjang proses analisa, cara berpikir lateral atau horisontal membolehkan kita untuk melakukan kesalahan. Proses yang membolehkan kesalahan berlangsung dimaksudkan untuk mencari pola baru dari pola baku yang sudah ada, mencari solusi non-dogmatis terhadap problem yang dihadapi, membuat jalan atau peta baru dalam suatu proses, menerobos pemikiran lama untuk menemukan kesegaran pemikiran baru serta membangun paradigma baru. - Proses berpikir lateral yang menantang dengan membolehkan ‘kesalahan’ akan menghasilkan sesuatu yang kreatif. Artinya setiap kemungkinan diperbolehkan hadir dengan tidak terburu-buru mengelompokkan pada kategori benar dan salah. - Sebagai analogi: saat kita membagi satu loyang roti maka bila kita berpikir secara vertikal setiap potongan akan kita usahakan dalam bentuk dan ukuran yang sama; namun bila kita berpikir secara lateral maka dapat saja bentuk potongan rotinya berbeda-beda dengan ukuran tidak sama menyesuaikan keinginan anak-anak yang mengkonsumsi roti tersebut. - Dalam persaingan bisnis yang demikian kompetitif kita harus mampu menggunakan dua cara berpikir di atas: Berpikir Vertikal dan Berpikir Lateral. Artikel terkait: |


Baru tahu nih mas cara berpikir boleh salah – to err is human – berbuat kesalahan adalah manusia – dalam bisnis mungkin ini yang disebut berani mengambil resiko – berpikir lateral
[Balas]
Anggara Reply:
Juli 24th, 2010 at 06:01
@Keping Hidup, berani mengambil resiko unsur pokok dalam bisnis….
[Balas]
Mas sory ikut nimbrung…, gmn ya… yang punya otak tapi digunakan untuk hal hal aneh aja?
Sukses Selalu
Salam Kenal
Karcax
[Balas]
Anggara Reply:
Juli 25th, 2010 at 19:04
@Karcax, aneh atau normal mengikuti sudut pandang tertentu terutama norma-norma masyarakat. Contoh kebiasaan orang Barat menaikkan kaki ke meja tidak dianggap melanggar sopan santun, di tempat kita sangat tidak sopan.
[Balas]
Bagus banget mungkin kalau dipadukan akan menjadi cara berfikiran Positif yach sama seperti distres dan eustres, ada tambahan pengetahuan nich trims kang…
[Balas]
Anggara Reply:
Juli 27th, 2010 at 14:46
@budiarnaya, sama2 bli.
[Balas]
Pengetahuan baru…..
Thanks infonya mudah2an bisa diterapkan & sukses
[Balas]
Amazing post. I have bookmarked your site. I am looking forward to reading more
[Balas]
baru tau kalo ada berpikir vertikal dan berpikir lateral…
[Balas]
Tulisan yg keren, Thanks
[Balas]
artikelnya bagus sob….
bisa merubah mindset kita
[Balas]
Great job on the site, it looks wonderful. I am going to bookmark it and will make sure to check often
[Balas]